SUATU hari, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Kota Bonn, Jerman, tepatnya 1 Oktober 1985, diadakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Usai acara, Duta Besar Indonesia Laksamana Ashadi Cahyadi dan atase pendidikan Dr. Soedijarto, tiba-tiba mengusulkan pada Muhammad Nu'man Somantri, Rektor IKIP Bandung saat itu, untuk membentuk sebuah orkestra angklung.
Usul itu didasarkan pada kenyataan, bahwa masyarakat Eropa umumnya hanya mengenal tari Jawa dan Bali, sebagai citra seni budaya Indonesia. Sayang sekali, bukan?
Usul yang baik itu pun segera ditanggapi Nu'man, dengan membentuk tim dan berlatih intensif selama 8 bulan. Tak sia-sia, akhirnya tim orkestra angklung itu, untuk pertama kalinya bisa tampil di Jerman dan Prancis dengan memukau.
Ya, itulah sekelumit kisah berdirinya Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) UPI. Campur tangan Nu'man tak bisa dilepaskan dalam pembentukan Kabumi, yang kini terkenal sebagai unit seni kebudayaan kampus yang aktif. Selama kurang lebih 20 tahun ini, Kabumi eksis. Kalau mengurut daftar pengalaman penampilannya, tentu saja bisa jadi daftar panjang.
Beberapa di antaranya, Kabumi UPI, sejak 1986 hingga 2003, selalu tampil sebagai pengisi acara di Istana Negara dalam rangka jamuan makan malam kenegaraan. Sejak 1986 Kabumi tampil di Prancis, Inggris, Eropa, Belgia, Spanyol, Belanda, Jerman, Peru, Malaysia, hingga Jepang, untuk Diplomasi Kebudayaan dan International Folklore dan Cultural Mission.
Dengan pengalaman segudang, tak heran Kabumi menarik minat banyak mahasiswa, khususnya di UPI. Kabumi termasuk salah satu UKM yang difavoritkan dengan jumlah pendaftar bisa mencapai 300-an.
Agar tak monoton
Tujuan dibentuknya Kabumi adalah menggali, melestarikan, dan mengembangkan seni tradisional dari seluruh nusantara (dominannya dari Jawa Barat). Kalimat tadi tampak membosankan? Ya, itu pun sedikit banyak diakui Billy, Sekretaris Kabumi. Dituturkannya, dulu sebelum masuk Kabumi, ia memang agak cuek dengan seni tradisional.
"Tapi setelah masuk, dengan sendirinya saya jadi bangga dengan kesenian kita," kata Billy kepada Kampus, ketika bertandang ke Sekretariat Kabumi, Sabtu (16/12).
Bagaimana tidak? Di Kabumi, seni tradisional, dari mulai tari sampai angklung, jadi begitu indah. Bukan semata-mata karena memang sudah bagus, tapi juga para anggota Kabumi kerap melakukan sentuhan inovasi di dalamnya.
Dalam mengaransemen lagu pakai angklung, misalnya, mereka mengeksplorasinya dari klasik, pop, sampai dangdut. "Kita harus menampilkan hal-hal baru. Makanya di pergelaran angklung kami, ada koreografinya. Ada penari latar, ada vokal, pokoknya lebih semarak. Katanya kan angklung hanya bisa didengar, tapi sebenarnya bisa dilihat juga," kata Ami, pengurus Kabumi bidang materi angklung.
Asal tak mengubah makna, inovasi bisa dilakukan. Karena, kata Ami, banyak anak muda yang jauh dari seni tradisional, seperti angklung. "Padahal, ini salah satu kekayaan kita, yang katanya malah mau dipatenkan negara lain," ucap Ami.
dewi irma kampus_pr@yahoo.com
Baca selengkapnya...